Temen2 ni ada pahlawan wanita yang pernah mengukir sejarah,
Silahkan dibaca... semoga manfaat...
PERJUANGAN
DEWI SARTIKA MEWUJUDKAN CITA-CITA
By:
Robiana / SI5
Kedudukan kaum wanita
dalam masyarakat Indonesia dari zaman ke zaman menunjukkan adanya perubahan.
Pada mulanya ia mempunyai tempat yang sangat baik, mendapat penghargaan dan
derajat yang sama dengan kaum pria. Sejarah menunjukkan bukti-bukti tentang hal
ini. Hampir diseluruh daerah di Indonesia pernah mengalami pengaruh besar dari
penguasa wanita dalam pemerintahan.
Beberapa contoh
kepemimpinan wanita, misalnya Ratu Sima dari kerajaan Kelling,
Tribhuwanatunggadewi dari wangsa Isyana. Di Jawa Barat, dalam cerita-cerita
rakyat dikenal juga peranan ratu. Dalam cerita patung Lutung Kasarung misalnya
Sunan Ambu adalah Batari yang berkuasa di Kahyangan, puteranya Lutung Kasarung
adalah suami dari ratu Purbasari, mengajarkan kepada rakyatnya ilmu bertani
padi. Istrinyalah yang berhak menjadi raja, suaminya hanya bertindak menjadi
pendamping.
Kemunduran posisi
wanita dalam masyarakat disebabkan beberapa hal. Feodalisme yang berkembang
dizaman Mataram menempatkan isteri sebagai lambang status sang pria, menggeser
tempat wanita dari kedudukan subjek menjadi objek.
Kehidupan
Semasa Kecil
Dewi Sartika dilahirkan pada tanggal 4 desember
1884, adalah putrid pertama dan anak kedua dari R. Raden Rangga Somanagara,
Patih Bandung, Ibunya adalah R.A Rajapermas, putri Bupati Bandung R.A.A
Wiranatakusumah IV, yang terkenal dengan sebutan Dalem Bintang.
Gedung
kepatihan, yang terletak dijalan Kepatihan di tenah-tengah kota Bandung,
merupakan sebuah bangunan besar dari bahan setengah batu, bergaya bangunan
pribumi tempat kediaman kaum priyayi. Disinilah Dewi Sartika dibesarkan
bersama-sama dengan saudara-saudaranya, R. Somamur, R. Junus, R. Entis dan R.
Sari Pamerat dalam lingkungan kehidupan keluarga yang harmonis. Dewi Sartika
tidak pernah kesunyian, hari-harinya penuh dengan kesibukan dan permainan
ditengah-tengah kehidupan orangtuanya yang menduduki jabatan tinggi dalam
pemerintahan.
Sebagai orangtua yang
berpandangan jauh kedepan dan peka terhadap gerak zamannya, Patih Bandung ini
telah memberikan pendidikan dasar yang baik kepada putera-puterinya. Ini
bukanlah suatu kebijakan yang umum pada waktu itu, karena pendidikan melalui
lembaga lembaga (sekolah) masih baru sekali, apalagi untuk anak perempuan,
bahkan dari golongan priyayi sekalipun.
Perjuangan
Untuk Mewujudkan sebuah Cita-cita
Pada umumnya pendidikan
yang diberikan dirumah-rumah semacam ini diberikan menurut kebiasaan masyarakat
setempat dan alakadarnya. Gadis-gadis ini belajar memasak, menjahit, melayani
orangtua makan, menata meja makan dan sopan-santun. Peristiwa-peristiwa yang
lucu dan sekaligus menyedihkan adalah saat para calon suami gadis-gadis
tersebut berkirim surat, maka mereka meminta tolong kepada Dewi Sartika untuk
membacakan suratnya. Dan adakalanya para gadis baru bisa membaca setelah mereka
menikah Karena belajar dengan suaminya.
Disatu pihak hal ini
telah menimbulkan kesadaran dalam diri Dewi Sartika akan keadaan yang
menyedihkan kaumnya. Gadis-gadis ini yang notabene nya berasal dari kaum
bangsawan yang dalam masyarakat feodal merupakan lapisan terpandang dan dimasa
depan akan mendampingi suami sebagai isteri pemimpin daerah, dalam kenyataannya
mereka buta aksara dan kurang sekali dalam pengetahuan umum dalam dunia
sekitarnya. Keadaan ini semakin menanamkan benih yang subur dalam tumbuh dalam
hati dan fikiran Dewi Sartika untuk sesuatu bagi kaumnya. Menurut pendapat Dewi
Sartika pendidikan dapat mengubah dan memperbaiki nasib mereka, seperti
tersirat dalam nasihatnya kepada murid-muridnya dikemudian hari, ketika Sekolah
Isterinya berhasil didirikan, “anak-anakku, sebagai perempuan kalian harus
memiliki banyak kecakapan agar mampu hidup1”.
Menerobos
Rintangan Pertama
Sekembalinya Dewi
Sartika dari Bandung, hasratnya untuk membuka sekolah bagi gadis-gadis remaja
semakin besar. Hal ini didorong oleh keluarganya sendiri. Untuk mewujudkan
keinginannya Dewi Sartika menghadap bupati Bandung. Pada mulanya Bupati Bandung
tidak menyetujui keinginan Dewi Sartika untuk membuka sekolah untuk anak-anak
perempuan, karena menurut pendapatnya akan mendapat tantangan yang keras dari
masyarakat. Sekolah untuk perempuan yang diusahakan oleh puteri priyayi jelas
bertentangan dengan kode kebangsawanan.
Akan tetapi, penolakan
ini tidak membuat Dewi Sartika putus asa. Berulangkali permohonan ini diajukan
kepada bupati, dan akhirnya bupati menyetujui maksud memajukan pendidikan kaum
perempuan ini dalam hatinya yang sebenarnya, meluluskan permintaan ini.
Pada
pagi hari tanggal 16 januari 1904, di Paseban yang terletak di halaman sebelah
barat Kabupaten Bandung, dibukalah untuk pertama kalinya sebuah sekolah untuk
anak-anak gadis. Berdirilah Sekolah Isteri, sekolah yang pertama untuk jenisnya
bagi seluruh Indonesia.
Tindakan ini merupakan sebuah hasil pemikiran yang
mendalam dan memakan waktu yang agak lama, berdasarkan pengalaman pribadi dalam
menghayati penderitaan tragedy keluarga antara yang lain yang disebabkan karena
keterbelakangan dan ketergantungan wanita pada zamannya. Kemerosotan dan
kemunduran kaum wanita yang tertulis dalam sejarah bangsa, merupakan akibat dari
bertemunya berbagai keburukan bermacam-macam sistem, yang pada puncaknya
membawa kaum wanita kedalam kedudukan yang tidak berdaya menjadi boneka
permainan atau budak kaum lelaki.
Pada
waktu Dewi Sartika telah berhasil mendirikan sekolahnya yang pertama untuk
gadis, dan kini berusaha untuk mengembangkannya ditingkat tinggi dimana
keputusan harus diambil demi kesejahteraan penduduk umumnya diseluruh
Indonesia, masalah ini masih tetap merupakan persoalan yang mentah.
Meningkatnya jumlah pengunjung
sekolah dikalangan wanita, jelas menguntungkan dan akan memajukan kedudukan
kaum wanita. Untuk memberikan tanggapan yang positif terhadap tantangan
masyarakat yang haus akan pendidikan ini, pengurus Kautamaan Isteri memperlebar
kegiatannya, dengan membuka sekolah baru. Pada tahun 1913 dibuka Sekolah
Kautamaan Isteri II di Bandung, dan sekolah Kautamaan Isteri lainnya di
Tasikmalaya tahun 1913, Padang Panjang 1915, Sumedang 1916, Cianjur tahun 1916,
Ciamis tahun 1917, Cicurug tahun 1918, Sukabumi tahun 19262.
Memetik
Hasilnya
Apabila ditanyakan
kepada Dewi Sartika, wanita yang bagaimanakah yang hendaknya terbentuk, apabila
ia sudah melewatkan sebagian dari tahun-tahun remajanya dalam asuhan pendidikan
Kautamaan isteri?
Maka jawabnya adalah
gadis remaja tamatan Sekolah Kautamaan Isteri hendaknya ia bisa hidup.
Karena keterbelakangan
kehidupan kaum wanita mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan bangsa,
karena wanita adalah ibu bangsa. Karena pendidikan, wanita bisa mempunyai
kedudukan sosialnya sendiri, tidak tergantung pada kedudukan atau status suami
dalam masyarakat. Kemandirian wanita dalam aspek ekonomi dan sosial ini dapat
mengangkat derajatnya yang selama ini tidak sama sekali. Dengan harapan-harapan
tersebut Sekolah Kautamaan Isteri menhasilkan tamatan pendidikannya. Sebagian
dari mereka ada yang meneruskan pelajarannya ke sekolah jururawat, bidan, untuk
calon guru yaitu ke Sekolah Van Deventer.
Dengan
berbagai cara Dewi Sartika berusaha untuk memperkenalkan sekolah yang
dipimpinnya, baik kepada masyarakat luas maupun kepada pihak pemerintah. Usaha
ini bermaksud, kecuali mendapat simpati dan dukungan, juga memasyarakatkan
pendidikan gadis yang dipimpinnya.
Setelah
melewati masa-masa yan serba sulit selama Perang Dunia I berlangsung, pada
tahun 1922 Pemerintah Hindia Belanda menganugerahkan bintang perak kepada Raden
Dewi Sartika, sebagai penghargaan atas jasa-jasanya bagi pendidikan anak-anak
gadis.
Pada
tahun 1929 bersamaan dengan genapnya 25 tahun berdirinya Sekolah Kautamaan
Isteri mula-mula bernama Sekoalh Isteri, pemerintah memberikan hadiah berupa
gedung baru, sebuah bangunan permanen terbuat dari bahan batu. Dihadiri oleh
banyak pembesar yang mangucapkan selamat kepada Dewi Sartika yang mengucapkan
selamat kepada Dewi Sartika Karena telah menjadi pengajar selama 25 tahun tanpa
cacat dan cela, dan semenjak saat itu sekolah Kautamaan Isteri terkenal dengan
Sekolah Raden Dewi.
Pada
16 januari 1939, diadakan upacara peringatan 35 tahun berdirinya Sekolah Raden
Dewi ini pula Dewi Sartika memperoleh bintang emas dari pemerintah, sebagai
penghargaan atas jasa-jasanya yang telah dilakukan kepada masyarakat. Bintang
emas ini adalah penghargaan yang lebih tinggi dari pada bintang perak yang
diperoleh Dewi Sartika pada tahun 1922.
Keharibaan
Allah Swt
Pada
waktu tanah air sedang mengalami peperangan, Dewi Sartika pergi meninggalkan
dunia yang fana ini, pulang ke Rahmatullah pada hari kamis, tanggal 11
september 1947, jam 09:00wib di tengah-tengah keluarga dirumah sakit Cineam
dalam usia 63 tahun.
Pelopor
dalam bidang pendidikan bagi kaum wanita ini meninggal sesudah melihat tanah
air dan bangsanya berhasil memproklamasikan kemerdekaannya, akan tetapi masih
sedang berjuang untuk memperjuangkan kemerdekaan tersebut dari Belanda yang
ingin kembali berkuasa dinegeri ini.
Lahirnya
gerakan-gerakan wanita serta kongres-kongres perkumpulan wanita yan menyatukan
organisasi-organisasi wanita kedalam satu ikatan. Dalam Kongres Perempuan
Indonesia bulan dessember 1998, telah merupakan tonggak sejarah dalam
perjuangan perbaikan nasib kaum wanita.
Dapatlah
dikatakan, bahwa tidak mungkin kemajuan ini dapat dicapai tanpa mengayunkan
langkah yang pertama. Dan dalam langkah yang pertama ini, peranan Dewi Sartika
tidaklah kecil. Dalam memperjuangkan kaum wanita.
Kemudian
pada tahun 1966 Pemerintah Republik Indonesia memenuhi harapan penduduk Jawa
Barat, terutama kaum ibunya. Dengan mengangkat Dewi Sartika sebagai pahlawan
kemerdekaan nasional. Dengan pertimbanangan perjuangannya dimasa silam.
Pengangkatan
ini dinyatakan dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Presiden Republik
Indonesia No. 25 tertanggal 1 desember 1966, dengan ditandatangani presiden
Soekarno.
DAFTAR
PUSTAKA
Wiriatmadja, Rochiati, DEWI SARTIKA;1983,DEPDIKBUD
Mirnawati, KUMPULAN PAHLAWAN NASIONAL:2012,Penebar
Swadaya Group